Simpulan Korupsi Benih Jagung Nyata Covid-19, Kejati NTB Batalkan Penahanan

Simpulan Korupsi Benih Jagung Nyata Covid-19, Kejati NTB Batalkan Penahanan

Merdeka. com – Penyidik Kejahatan Khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Barat (NTB) batal memeriksa dan menahan AP, tersangka korupsi pemasokan benih jagung, Rabu (28/4). Pria itu dikirim ke hotel untuk menjalani isolasi.

“Karena simpulan AP dinyatakan positif Covid-19, jadi kami belum mampu melakukan pemeriksaan dan pula penahanan, ” kata Spesialis Bicara Kejati NTB, Dedi Irawan, di Mataram.

AP dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil ulangan cepat antigen yang dikerjakan di Rumah Sakit Ijmal Daerah (RSUD) Kota Mataram. Saat melakukan tes, dia didampingi kuasa hukumnya, Emil Siain.

“Jadi, setibanya di kantor kejaksaan, penyidik berinisiatif membawa tepat yang bersangkutan ke RSUD Kota Mataram. Setelah dites, hasilnya positif Covid-19, ” ujarnya.

Kemudian, penyidik berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 Kota Mataram. Tersangka AP diminta untuk menjalani isolasi mandiri.

Sesuai dengan rujukan Satgas Covid-19, tersangka AP harus menjalani isolasi mandiri dalam Hotel Fizz, depan Universitas Mataram.

Dedi mengatakan, pihaknya akan kembali mengagendakan pemeriksaan untuk tersangka AP. “Kapan itu, kita tunggu saja, pastinya awak periksa, ” kata Dedi.

Penasihat Adat AP, Emil Siain, mengatakan, kliennya sudah bersikap kooperatif. Dia menegaskan pernyataan kliennya bahwa dia positif Covid-19 bukan sebuah rekayasa.

“Sekarang sudah benar kan. Walaupun dites pada RSUD Kota Mataram, konsumen saya ini tetap dinyatakan positif Covid-19, ” jelasnya.

Oleh sebab itu, Emil menegaskan bahwa kliennya tidak pernah mangkir dari panggilan jaksa. Ketidakhadiran kliennya selalu disertai dengan keterangan jelas.

Untuk ketidakhadirannya pada panggilan pertama dan kedua, Emil menganggap alasan kliennya sudah cukup jelas karena terpapar Covid-19. Mereka juga sudah menyertakan keterangan medis sebab pihak rumah sakit.

“Jadi, keterangan tersebut bukan cuma dari Panti Sakit Harapan Keluarga, melainkan dari RSUD Kota Mataram, ” ucapnya.

Emil juga mengatakan, kliennya juga tidak mangkir di dalam panggilan ketiga seperti dengan disebutkan jaksa. “Tidak tersedia klien saya mangkir, tidak begitu. Jadi, saya sendiri yang datang mengantarkan tulisan keterangan klien kami yang tidak hadir. Namun, kala mengantar surat tersebut, aku tidak bertemu dengan kasidik-nya (kepala penyidik), ” ujarnya.

Dalam peristiwa ini, hanya AP dengan merupakan Direktur PT Sinta Agro Mandiri (SAM) yang belum pernah menjalani penjagaan sejak ditetapkan sebagai tersangka pada 9 Februari 2021.

Dalam penanganan perkara ini, pihak kejaksaan telah mengungkap peran AP sebagai tersangka bersama tiga orang lainnya. Tiga simpulan lainnya sudah menjalani penjagaan dan ditahan di Rutan Polda NTB sejak Senin (12/4).

Mereka yang ditahan dengan posisi tahanan titipan jaksa ialah mantan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB, Husnul Fauzi, yang berlaku sebagai kuasa pengguna taksiran (KPA) proyek; IWW, penguasa pembuat komitmen (PPK) rencana jagung pada tahun taksiran 2017; dan LIH, Eksekutif PT Wahana Banu Sentosa (WBS).

Keempatnya disangkakan Pasal 2 Bagian (1) juncto Pasal 18 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP dan/atau Pasal 3 jo. Pasal 18 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Dalam penanganannya, penyidik telah menemukan angka kerugian negara senilai Rp15, 45 miliar. Nominal itu muncul dibanding jumlah benih tidak bersertifikat dan gagal tanam. Kerugian negara dari PT WBS muncul angka Rp7 miliar, kemudian dari PT SAM sebesar Rp8, 45 miliar. [yan]

Location | Posted in Info