Gaya Kesehatan Puskesmas di Tasikmalaya Dikerahkan untuk Rapid Test Antigen Santri

Gaya Kesehatan Puskesmas di Tasikmalaya Dikerahkan untuk Rapid Test Antigen Santri

Merdeka. com semrawut Besar Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Atang Sumardi menginstruksikan seluruh barisan puskesmas di wilayahnya buat mengantisipasi kedatangan santri ke pondok pesantren. Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran corona.

Oleh karena itu, menurut Membawa, diharapkan agar para santri saat kembali ke Tasikmalaya bisa membawa surat petunjuk sehat yang menyatakan sudah dirapid antigen minimal.

“Saya menerima laporan, ada juga Puskesmas yang justru me-rapid antigen dalam tempat (pesantren). Yang jalan itu seperti itu, ” kata Atang, Selasa (25/5).

Sejumlah puskesmas yang melaksanakan rapid antigen di tempat itu ada di beberapa wilayah, tiba Singaparna, Salopa, dan Rajapolah. Dalam teknisnya, dari puskesmas turun melakukan rapid test antigen.

“Jadi seluruh santri yang sampai dirapid test antigen. Untuk alatnya pihak pesantren dengan beli, kalau puskesmas sebagai pelaksananya. Mungkin karena para santri biasa menyisihkan kekayaan untuk bayaran, jadi bayarnya dari sana, kan melimpah tidak sampai Rp 100 ribu, ” jelasnya.

Atang mengungkapkan bahwa pihaknya sudah berkomunikasi dengan pengurus sejumlah pesantren pada Kabupaten Tasikmalaya terkait perkiraan yang dilakukan pihaknya itu. Pihak pesantren menurutnya memafhumi dan memahami karena dalam dasarnya tidak mau ada yang terpapar virus corona.

Sementara itu, Kepala Bidang P2P dalam Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra menyebut kalau pihaknya sudah berkoordinasi secara Kementerian Agama Kota Tasikmalaya. Kemenag Kota Tasikmalaya, menurutnya sudah mengeluarkan surat supaya santri yang kembali ke pesantren harus sudah diperiksa rapid test antigen.

“Selain itu pula untuk protokol kesehatannya kudu disiapkan terlebih dahulu, dan santri yang datang selalu harus isolasi dulu, ” sebutnya.

Asep juga mengaku bahwa pihaknya belum ada rencana melakukan tes acak kepada para-para santri yang datang, tetapi pihaknya meminta agar pihak pesantren melapor saat ada santri yang bergejala Covid-19. “Memang yang problem itu yang tanpa gejala, sudah menyebar baru ketahuan, ” tutup Asep. [cob]