Gatot Nurmantyo: Penangkapan Tokoh KAMI Strategis, Diduga HP Diretas dan Disadap

Gatot Nurmantyo: Penangkapan Tokoh KAMI Strategis, Diduga HP Diretas dan Disadap

Merdeka. com kacau Koalisi Kesibukan Menyelamatkan Indonesia (KAMI) memprotes interpretasi para petingginya oleh polisi . KAMI menilai tersedia beberapa kejanggalan atas penangkapan itu. Mereka menduga penangkapan itu sarat tujuan politis.

Penangkapan petinggi KAMI, khususnya Syahganda Nainggolan, dinilai tidak lazim dan melupakan prosedur dari laporan polisi dan keluarnya Sprindik. Ditambah penggunaan UU ITE dalam kasus ini.

“Penangkapan mereka, khususnya Dr Syahganda Nainggolan, jika dilihat sebab dimensi waktu dasar Laporan Polisi & keluarnya Sprindik pada hari yang serupa jelas aneh atau tidak umum dan menyalahi prosedur. Lebih lagi jika dikaitkan dengan KUHAP Kausa 17 tentang perlu adanya sedikitnya dua barang bukti, dan UU ITE Pasal 45 terkait frasa ‘dapat menimbulkan’ maka penangkapan para-para Tokoh KAMI patut diyakini mengandung tujuan politis, ” ujar Presidium KAMI, Gatot Nurmantyo, dalam siaran pers, Rabu (14/10).

KAMI juga protes karena Polri seakan melakukan penggiringan opini, generalisasi dengan penisbatan kelembagaan yang berkelakuan tendensius, hingga masih prematur sebab pemeriksaan masih berlangsung.

“Semua hal di atas, termasuk membuka nama dan identitas seseorang yang ditangkap, menunjukkan bahwa Polri tidak menegakkan prinsip praduga tidak bersalah (presumption of innocence), yang seyogya harus diindahkan oleh Lembaga Penegak Hukum/Polri, ” kata Gatot.

Selain itu, Gatot mengklaim bahwa ada indikasi telepon genggam milik tokoh KAMI diretas dan disadap oleh pihak tertentu. Kata dia hal ini kerap terjadi oleh aktivis yang payah terhadap negara. Diduga barang petunjuk percakapan bersifat artifisial dan absurd.

“KAMI menegaskan kalau ada indikasi kuat handphone kaum Tokoh KAMI dalam hari-hari terakhir ini diretas/dikendalikan oleh pihak tertentu sehingga besar kemungkinan disadap atau ‘digandakan’ (dikloning), ” katanya.

Gatot menolak jika kesibukan anarkis dalam aksi unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja dikaitkan dengan KAMI. Dia menegaskan, AWAK belum secara kelembagaan ikut mengikuti dalam aksi meski mendukung kelakuan mogok nasional dan unjuk menikmati sebagai pemenuhan hak konstitusional.

“Polri justru diminta untuk mengusut adanya indikasi keterlibatan karakter profesional yang menyelusup ke dalam barisan pengunjuk rasa dan melangsungkan tindakan anarkis termasuk pembakaran, ” kata Gatot.

KAMI mendesak Polri membebaskan para tokoh yang ditangkap atas tuduhan perkara karet UU ITE. Menurut Gatot, cara-cara ini bertentangan dengan semangat demokrasi dan konstitusi.

“Kalaupun UU ITE tersebut suka diterapkan, maka Polri harus berkeadilan yaitu tidak hanya membidik AWAK saja sementara banyak pihak dalam media sosial yang mengumbar ujian kebencian yang berdimensi SARA akan tetapi Polri berdiam diri, ” logat Gatot.

Penjelasan Polisi

Penjaga menetapkan lima dari delapan terdiri dari pendiri dan anggota Liga Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) sebagai tersangka terkait demonstrasi Undang-undang menegah Cipta Kerja. Para tersangka ditetapkan sebagai tersangka kasus penyebaran ujaran kebencian dan penghasutan terkait demo Omnibus Law Undang-undang Cipta Kegiatan.

Karo Penmas Bagian Humas Mabes Polri, Brigjen Bambu Setiyono menjelaskan, lima tersangka itu adalah Juliana, Devi, Khairi Amri, Wahyu Rasari Putri serta Kingkin. Menurut nya, empat orang ditetapkan tersangka tersangka ditangkap di wilayah Daerah, Sumatera Utara.

“Semua yang sudah 1×24 jam diperiksa, sudah jadi tersangka, ” sebutan Awi di Mabes Polri, Selasa (13/10).

Awi mengucapkan, polisi mengantongi bukti tersangka menyampaikan informasi yang membuat rasa kebencian dan permusuhan terhadap individu ataupun kelompok berdasarkan SARA dan penghasutan. Salah satunya percakapan tersangka di media sosial.

“Percakapan di media sosial salah mulia bukti yang kami pegang. Tersebut penghasutan tentang apa? Ya tadi penghasutan tentang pelaksanaan demo Omnibus Law yang berakibat anarkis. Nanti tentunya akan disampaikan lebih rinci oleh tim siber, ” logat dia.

Awi mengatakan, anggota KAMI diduga menyebarkan pesan-pesan bernada provokasi melalui grup-grup WhatsApp (WA). Awi menuding, pesan lengah satu pemicu massa bertindak anarkis.

“Ini terkait secara demo Omnibus Law yang berakhir anarkis. Patut diduga mereka-mereka itu memberikan informasi yang menyesatkan beraroma SARA dan penghasutan-penghasutan itu, ” kata Awi.

Bambu menjelaskan, pesan-pesan yang disebar sebab anggota KAMI dinilai sangat membahayakan. Pesan itu diduga kuat sanggup membangkitkan emosi pengunjuk rasa untuk bertindak anarkis. Kepolisian pun sudah menemukan percakapannya di media sosial itu. Percapakan itu kini dijadikan salah satu barang bukti.

“Kalau rekan-rekan membaca WA-nya ngeri, pantas kalau di lapangan terjadi anarki itu mereka masyarakat yang tidak paham betul, jujur tersulut. Mereka memang direncanakan sedemikian rupa untuk membawa ini mendatangkan itu, melakukan pengerusakan itu ada jelas semua terpapar jelas, ” ujar dia.

Berjalan mempertanggungjawabkan perbuatannya tersangka dijerat pencetus 45 ayat 2 Undang-undang MENODAI nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 160 KUHP tentang Penghasutan.

“Ancaman pidananya, UU ITE dan Pasal 160 KUHP adalah 6 tahun penjara, ” ujar dia. [lia]

Location | Posted in Info